Mendaki Gunung? Apakah menarik?
Salam sapa untukmu yang sedang berkunjung
kemari, aku punya sebuah pertanyaan nih, yuk coba dijawab.
Satu pertanyaan saja ya.
Menurut kalian, apa yang menarik
dari sebuah kegiatan mendaki gunung?
Ada yang tau jawabannya?
Bolehlah nanti sharing-sharing jawabannya di kolom komentar.
Sebelum membahas jawaban dari
pertanyaan diatas versi Skyward, bolehlah untuk berbagi cerita sedikit yang
dapat menjurus ke jawabannya hehe.
Mendaki gunung sangat asing di
telingaku ketika itu, ketika aku hanya beraktifitas dengan keseharianku keluar
rumah hanya untuk bersekolah lalu kembali ke rumah lagi setelahnya, dan ketika
belum melihat betapa luasnya tata wilayah perkotaan sampai pedesaan di Nusantara
yang selalu menyuguhkan pesona keindahan yang tiada duanya.
Aku tidak tahu mengapa beberapa
tahun terakhir ini, aku cukup tertarik tapi belum sampai suka dengan mendaki
gunung walaupun ada beberapa gunung yang sudah pernah kukunjungi.
Tertarik dengan suka adalah dua kata
yang berbeda makna. Tertarik itu hanya sekilas dan sementara seperti sebuah
warung yang hanya digunakan untuk singgah sejenak namun tidak memberikan
kenyamanan, sedangkan suka yaitu kesenangan yang selalu dilakukan sama halnya
dengan rumah yang selalu dikunjungi oleh pemiliknya karena memberikan
kenyamanan yang tidak akan tergantikan dengan tempat lain manapun.
Awalnya aku tidak tahu asal mulanya,
tetapi aku mungkin cukup pintar untuk menerka hal ini. Hal-hal yang masih
berkecamuk dan meminta untuk terus terselesaikan dalam benak pikiran seorang
perempuan ini.
Banyak orang melakukan sesuatu yang
tidak seperti biasanya, cukup mengejutkan bahkan dapat beresiko dengan kata
lain out of the box atau keluar dari
zona nyamannya selama ini. Dan satu lagi, biasanya seseorang melakukan suatu
hal yang berbeda dari sebelumnya karena terinspirasi dari seseorang atau suatu
kejadian yang berpengaruh dalam hidupnya.
Ya, aku mulai mencoba mendaki gunung
dua puluh empat bulan yang lalu tepatnya setelah aku memutuskan merantau keluar
dari kota kelahiranku. Keluar dari sebuah kota yang selalu menemani keseharian
sangat membutuhkan tekad dan sekantong keberanian, niat yang utama menjadi
sebuah pegangan erat sampai bisa melangkah sejauh ini.
Mendaki gunung adalah suatu hal yang
baru untukku pada saat itu, resikonya cukup membuatku merasa gentar namun tidak
menyurutkan keinginan itu. Setiap kali orang bertanya apa yang menarik dari
mendaki gunung hingga rela meninggalkan peradaban menuju rungkutnya hutan, aku
akan menjawabnya dengan keindahan-keindahan yang tidak ada di dataran yang
datar. Aslinya memang demikian dan kurasa jawabanku cukup enak didengar
telinga, akan tetapi menurut terkaanku hati berkata lain. Keindahan-keindahan
yang disuguhkan hanyalah jawaban sekunder. Nah menurutmu apa jawaban primernya?
Cukup sederhana jawaban primernya
kalau saja kamu tahu, yang membuatku tertarik untuk mendaki gunung dibalik
keindahan adalah seseorang yang telah sirna dan tidak untuk diceritakan disini.
Apakah seseorang itu menginspirasi? Sedikit pada awalnya, namun nyatanya tidak
sama sekali untuk saat ini. Hanya sebuah pembuktian yang bisa mengantarkanku
sampai saat ini, bukti bahwa apa yang kupandang ketika sampai di puncak
mengalahkan seseorang itu.
Banyak pelajaran suka duka yang bisa
dipetik dari lelahnya mendaki gunung, mengesampingkan seseorang yang mungkin
memotivasi dan menginspirasi diri yaitu dimulai dari cara memantaskan diri
sebelumnya sampai pada akhirnya membuka lebar-lebar kedua bola mata bahwa
lingkungan Indonesia butuh perhatian dari anak muda generasi bangsa. Hati akan
belajar dengan sendirinya tanpa diminta tentang menghargai dan menghormati
orang-orang yang nyatanya masih mengedepankan harmonisnya adat istiadat dan
kekeluargaan. Mungkin saja kita telah melakukannya tanpa disadari, lalu lalang
orang akan mengajarkan hal itu jika saja kita cukup jeli untuk meneliti lebih
jauh.
Berdiri tegak,
Meneguhkan hati,
Berpikir lebih jauh,
Berbicara lebih dalam,
Melangkahkan kaki lebih teliti,
Membuat diri lebih pantas hidup.
Komentar
Posting Komentar