REVIEW FILM THE LETTER WRITER
REVIEW FILM THE LETTER WRITER
“THE POWER OF WORDS”
Film ini aku
tonton pada bulan lalu dan entah mengapa setelahnya aku tiba-tiba membuat
tulisan ini. “The Letter Writer”, film yang kutemukan pada website penyedia
film yang akhir-akhir ini sering kubuka untuk menghilangkan penatnya kuliah
online.
“The Letter Writer” terdengar unik dan jarang
kulihat film-film lainnya tentang hal yang serupa. Oh ya, aku menemukan film
ini setelah berulang kali mendapatkan film yang tak sesuai dengan moodku saat
itu. Pikiranku mengatakan bahwa filmnya akan bagus apalagi aku adalah tipe yang
memilih film dari asal Negara, cover film itu sendiri, baru setelah itu beralih
ke waktu dan sinopsisnya. Cover dari film ini cukup meneduhkan hati karena
menurutku jika ada gambar orang tersenyum dengan tulus tentunya akan menarik
para penonton untuk menontonnya. walau tidak ada yang membenarkan pernyataan
ini.
“The Letter Writer” adalah film USA tahun 2011
berdurasi 85 menit dengan genre family oleh Christian Vuissa. Film ini
mengisahkan tentang seorang anak remaja perempuan bernama Meggy, ia merasa
bahwa dirinya sangat buruk. Orang tuanya telah lama bercerai dan kini ia hidup
bersama ibunya. Ibunya selalu sibuk bekerja dan jarang memperhatikannya. Ia
juga mempunyai tetangga seorang anak kecil yang sedang sakit yang tak biasa,
namun anehnya anak tersebut masih bisa tersenyum tulus tak seperti dirinya yang
sehat.
Sehari-harinya
hal yang dilakukan Meggy hanya berkuliah dengan mengantuk di kelas tanpa
bersemangat dan setiap ada ujian ia selalu menyontek milik temannya. Sehingga ia
sering dipanggil ke ruang dosen. Bernyanyi dan main gitar menjadi hobinya tapi
tak disupport oleh ibunya namun dengan adanya kekasih cukup membuatnya sedikit
bahagia karena dengannya ia mendapat support dan bisa menjadi anggota band yang
bisa menyalurkan bakatnya.
Suatu hari
ketika Meggy pulang dari kuliahnya, ia tak sengaja melihat kotak surat dan
mengambil surat yang ada di dalamnya lalu membacanya. Tak ada yang menyangka
jika surat tersebut berisi kata-kata penyemangat dan jawaban atas keresahannya
selama ini. Isi surat tersebut mampu membuat sosok Meggy rela menghabiskan
waktu, pikiran dan tenaganya untuk menemukan seorang dengan nama Sam
Worthington, sosok yang telah menulis surat berharga tersebut untuknya.
Bertanya pada ibunya tentang nama yang tercantum dalam surat itu telah ia
lakukan bahkan menemui ayahnya yang tak pernah sama sekali ia kunjungi, hanya
untuk menanyakan siapa yang telah menulis surat itu juga nihil baginya hingga
ia mendapatkan ide untuk mengunjungi kantor pos dan bertanya pada petugas yang
ada disana. Awalnya juga tak berhasil, namun ada salah satu petugas yang tak sengaja
mendengar keluhan Meggy kepada petugas yang melayaninya hingga petugas tersebut
memberikan alamat dari penulis surat tersebut. Meggy lalu bergegas untuk menuju
alamat tersebut dan alhasil ia menemukan apa yang dicarinya.
Sosok Meggy
sempat membuat sosok Sam merasa kaget akan kehadirannya. Meggy pun menanyakan
apakah beliau mengenal sosoknya karena ia sama sekali belum pernah bertemu
dengannya sebelum itu. Sam akhirnya mengajak Meggy untuk berkeliling mencari
udara segar sambil menceritakan kegiatan menulis surat yang ia tekuni selama
ini, menulis surat secara random lalu membagikannya kepada orang-orang yang ia
rasa membutuhkan isi dari suratnya termasuk kepada Meggy. Sam seperti bisa
merasakan isi hati dari orang-orang yang kelihatan bersedih ataupun sedang
bermasalah, isi suratnya pun tak beda jauh dengan motivasi agar orang yang
menerima surat tersebut menghilangkan keresahan yang sedang dirasakan.
Dari pertemuannya
dengan Sam yang berulang kali, membawa begitu banyak kisah yang tak pernah terbayangkan
sebelumnya oleh Meggy. Pertemuan dan kiah tersebut mampu membuat seorang Meggy
merasa harus menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya. Ia tak seburuk apa
yang ada dipikirannya. Semua orang tercipta membawa peruntungannya sendiri dan
itu tak buruk justru kekuatan.
Meggy
memulai semua perubahan yang lebih baik itu dari diri sendiri, ibunya, ayahnya,
tetangganya, hobinya, temannya, kekasihnya dan kuliahnya. Ada manis, pahit,
asam. Semuanya terlewati begitu saja dan ia juga mencoba menjadi sosok seperti
Sam yang mampu merubah seseorang seperti dirinya menjadi orang yang lebih
hidup. Semuanya berhasil ia lakukan pada saat Sam harus menutup usianya. Dari
sosok Sam, Meggy bisa belajar banyak hal bahwa manusia hidup harus saling care,
peduli dan simpati dengan manusia lainnya. Tak ada lagi yang namanya individu
dan kata egois, yang ada hanya hati yang bisa melihat hati orang lain dengan
tulus.

Komentar
Posting Komentar